Selasa, 01 Januari 2008

Mencari Rumah Allah

Jika Kabah dan juga kompleks Masjidil Haram di Mekah, benar adalah Rumah Allah (baitullah) lalu apakah Allah bisa dijumpai di sana? Aku menunaikan haji dan bertamu ke rumah Allah, tapi tak kutemukan si Pemilik Rumah itu melainkan lautan manusia yang berputar mengelilingi Kabah.

SEPERTI itulah konon pertanyaan-pertanya an almarhum Haji Abdul Malik Karim Amrullah ketika menunaikan syariat ibadah yang kelima yaitu berhaji untuk kali pertama. Ketika berkesempatan naik haji untuk kali kedua, pertanyaan yang sama masih berkecamuk dalam diri ulama yang dikenal dengan sebutan Hamka itu. Tapi Hamka tetap tak menemukan jawaban. Dia terus mencari jawaban, kendati tak bertanya kepada manusia. Pada ibadah haji yang ketiga, Hamka menemukan jawaban atas semua pertanyaan dirinya. Allah si Pemilik dan Tuan Rumah itu, memang ada. Bukan di dalam Kabah, tak pula di kompleks Masjidil Haram, apalagi di kota Mekah. Hamka menemukan Allah justru di hati. Ketika pulang ke Indonesia, Hamka menuangkan pengalamannya bertemu Allah itu ke dalam buku Tasawuf Modern.Bagi kaum Muslim, Kabah adalah kiblat. Sebuah titik di muka bumi, sebuah arah ke mana kaum Muslim menghadapkan wajah ketika shalat. Di Mekah setiap tahun ratusan ribu bahkan jutaan peziarah dari semua negeri Muslim berkumpul. Mengunjungi Kabah melaksanakan qurban dan memperbarui ketaatan mereka kepada Allah dan berjanji untuk menjalankan suatu kehidupan baru yang pantas bagi seorang Muslim.Dari Kabah, sejarah perjuangan sebagian para orang suci di mulai dan ditegakkan. Nabi Adam bertemu Hawa di tempat Kabah sekarang berdiri. Nabi Ibrahim dibantu Ismail, anaknya, membangun Kabah sehingga berbentuk seperti yang terlihat sekarang. Nabi Muhammad membersihkan Kabah dan semua berhala Arabia dan memberikan cahaya, agama, kegemberiaan, dan kekuatan kepada kaum musyirikan Arab yang bodoh yang dalam waktu singkat menyebarkan cahaya itu ke empat penjuru bumi.Selain di dalam Alquran dan hadits, kisah tentang Kabah juga banyak diceritakan oleh Taurat dan Injil (bahkan ketika dua kitab itu sudah dimanipulasi) . Seorang sophee atau ahli ramal dalam penglihatan ghaib kaum Yahudi menceritakan bagaimana Yerusalem di bumi diangkat dan dipindahkan ke sebuah negeri di selatan. Yerusalem baru itu tak lain adalah Mekah, karena ia berada di negeri sebelah selatan dengan dua bukit Marwa dan Safa yang menyandang nama yang sama dengan Moriah dan Zion. Dua tempat itu memiliki sumber dan siginifikansi yang sama tapi Yerusalem bermula lebih awal. Irushalem atau Urushalem lama menjadi kota Cahaya dan Kedamaian. Cerita itu diungkap oleh David Benyamin Keldani (Abdul Ahad Dawud), seorang bekas pastor Katolik yang mencoba mencari jawaban mengapa Taurat dan Injil tak mau mengakui Muhammad dalam buku Menguak Misteri Muhammad.Tapi benarkah Kabah adalah Rumah Allah, seperti Hamka pernah bertanya? Ketika Nabi Muhammad menghancurkan seluruh patung yang berada di dalam Kabah, yang sebenarnya dimusnahkan adalah kebusukan dan kebodohan manusia. Seluruh berhala yang dihancurkan oleh Nabi Muhammad hanyalah simbol. Karena itu, bukan soal patung (yang dihancurkan) itu benar, pelajaran yang hendak disampaikan oleh Nabi Muhammad kepada manusia. Melainkan belajarlah untuk membersihkan hati sehingga bisa bersikap sebagai manusia yang tidak bodoh. Bait Allah (Kabah) yang sebenarnya, karena itu mestinya juga dipahami tidak hanya secara kasat mata (lahir). Namun yang lebih mendasar dan penting, harus diyakini bahwa Bait Allah adalah juga tak tampak dan bersemayan pada hati (rasa) manusia. Di sanalah, di hati manusia itu sebenarnya seluruh tawaf perenungan selalu berputar, tempat lari-lari kecil dari kehidupan dunia dan melempar jumrah kebusukan.Maka ketika seorang Muslim pergi ke Mekah untuk berhaji dan berharap menjumpai Allah di Kabah dan Masjidil Haram, dia dipastikan akan menelan kekecewaan. Allah dan juga Bait Allah tak seperti dibayangkan, dan bisa dimengerti seperti pemahaman banyak orang tentang Allah dan Bait Allah. Hamka pernah kecewa, karena pemahaman tentang Allah dan Bait Allah seperti diakui sendiri oleh Hamka sebelumnya ternyata memang tidak tepat. Isyarat bahwa Kabah adalah Bait Allah bukan dalam pemahaman bahwa Allah bermukim di sebuah tempat kudus seperti Kabah. Kabah hanyalah pertanda, simbol, dan isyarat bagi sebuah pemahaman yang luas dan tak terbatas tentang Bait Allah yang sebenarnya. Ia (Kabah) bisa dipahami secara harfiah dan secara jasad tapi juga bisa dipahami secara secara lebih esensial hakiki.

Tidak ada komentar: