Senin, 14 Januari 2008

Alhamdulillah Aku Masuk Neraka

alkisah, di zaman Nabi Musa as, ada seorang rahib bertanya kepada Nabi Musa as.“hai Musa, aku bertanya kepadamu, kira2 setelah mati nanti, di manakah tempatku? di surga atau di neraka?”“wah, itu urusan Allah. aku tidak tau tentang itu.” jawab Nabi Musa“sebagai nabi Allah, pastilah kamu dapat menanyakannya kepada Allah.”“oke… aku akan meminta petunjuk kepada Allah tentang tempatmu kelak.” jawab Nabi Musa.

setelah tiga hari, Nabi Musa kembali dengan membawa jawaban untuk si rahib.“tempatmu di surga karena ketaatanmu kepada Allah.” jawaban Nabi Musa“o.. iya, tentu tempatku di sana. aku sudah mengiranya. thanks ya Musa.” rahib berlalu sambil tersenyum-senyum.
tidak lama kemudian, datanglah pemuda yang terkenal pemabuk, perampok, dan penjahat. hampir segala kejahatan pernah dia lakukan. si pemuda mendekati Nabi Musa dengan membawa pertanyaan yang sama dengan sang rahib. Nabi Musa juga tidak langsung menjawab, tapi menangguhkannya sampai tiga hari.

pada hari ketiga, si pemuda kembali bertanya kepada Nabi Musa tentang tempatnya kelak sesudah mati.“tempatmu di neraka, karen kedurhakaan yang telah kamu lakukan.”“alhamdulillah, aku masuk neraka.” jawab si pemuda yang membuat Nabi Musa heran.“kenapa kamu bahagia dengan neraka sebagai tempat hari depanmu?” tanya Nabi Musa.“aku bahagia, setidaknya Allah masih mnegingatku, memedulikanku, serta memberikanku tempat setelah aku mati kelak. sungguh Allah adalah Zat Yang Maha Pemurah.”

konon, kisah kedua orang tersebut terbalik di akhir ceritanya. sang rahib ditempatkan di neraka karena ksombongannya. dan si pemuda masuk surga karena keikhlasannya, juga karena si pemuda berobat setelah pertemuannya dengan Nabi Musa.

Kamis, 10 Januari 2008

Cinta Karena Allah

Kata pujangga cinta letaknya di hati. Meskipun tersembunyi, namun getarannya tampak sekali. Ia mampu mempengaruhi pikiran sekaligus mengendalikan tindakan. Sungguh, Cinta dapat mengubah pahit menjadi manis, debu beralih emas, keruh menjadi bening, sakit menjadi sembuh, penjara menjadi telaga, derita menjadi nikmat, dan kemarahan menjadi rahmat. Cintalah yang mampu melunakkan besi, menghancurkan batu karang, membangkitkan yang mati dan meniupkan kehidupan padanya serta membuat budak menjadi pemimpin. Inilah dasyatnya cinta (Jalaluddin Rumi).
Namun hati-hati juga dengan cinta, karena cinta juga dapat membuat orang sehat menjadi sakit, orang gemuk menjadi kurus, orang normal menjadi gila, orang kaya menjadi miskin, raja menjadi budak, jika cintanya itu disambut oleh para pecinta palsu. Cinta yang tidak dilandasi kepada Allah. Itulah para pecinta dunia, harta dan wanita. Dia lupa akan cinta Allah, cinta yang begitu agung, cinta yang murni.
Cinta Allah cinta yang tak bertepi. Jikalau sudah mendapatkan cinta-Nya, dan manisnya bercinta dengan Allah, tak ada lagi keluhan, tak ada lagi tubuh lesu, tak ada tatapan kuyu. Yang ada adalah tatapan optimis menghadapi segala cobaan, dan rintangan dalam hidup ini. Tubuh yang kuat dalam beribadah dan melangkah menggapai cita-cita tertinggi yakni syahid di jalan-Nya.
Tak jarang orang mengaku mencintai Allah, dan sering orang mengatakan mencitai Rasulullah, tapi bagaimana mungkin semua itu diterima Allah tanpa ada bukti yang diberikan, sebagaimana seorang arjuna yang mengembara, menyebarangi lautan yang luas, dan mendaki puncak gunung yang tinggi demi mendapatkan cinta seorang wanita. Bagaimana mungkin menggapai cinta Allah, tapi dalam pikirannya selalu dibayang-bayangi oleh wanita/pria yang dicintai. Tak mungkin dalam satu hati dipenuhi oleh dua cinta. Salah satunya pasti menolak, kecuali cinta yang dilandasi oleh cinta pada-Nya.
Di saat Allah menguji cintanya, dengan memisahkanya dari apa yang membuat dia lalai dalam mengingat Allah, sering orang tak bisa menerimanya. Di saat Allah memisahkan seorang gadis dari calon suaminya, tak jarang gadis itu langsung lemah dan terbaring sakit. Di saat seorang suami yang istrinya dipanggil menghadap Ilahi, sang suami pun tak punya gairah dalam hidup. Di saat harta yang dimiliki hangus terbakar, banyak orang yang hijrah kerumah sakit jiwa, semua ini adalah bentuk ujian dari Allah, karena Allah ingin melihat seberapa dalam cinta hamba-Nya pada-Nya. Allah menginginkan bukti, namun sering orang pun tak berdaya membuktikannya, justru sering berguguran cintanya pada Allah, disaat Allah menarik secuil nikmat yang dicurahkan-Nya.
Itu semua adalah bentuk cinta palsu, dan cinta semu dari seorang makhluk terhadap Khaliknya. Padahal semuanya sudah diatur oleh Allah, rezki, maut, jodoh, dan langkah kita, itu semuanya sudah ada suratannya dari Allah, tinggal bagi kita mengupayakan untuk menjemputnya. Amat merugi manusia yang hanya dilelahkan oleh cinta dunia, mengejar cinta makhluk, memburu harta dengan segala cara, dan enggan menolong orang yang papah. Padahal nasib di akhirat nanti adalah ditentukan oleh dirinya ketika hidup didunia, Bersungguh-sungguh mencintai Allah, ataukah terlena oleh dunia yang fana ini. Jika cinta kepada selain Allah, melebihi cinta pada Allah, merupakan salah satu penyebab do’a tak terijabah.
Bagaimana mungkin Allah mengabulkan permintaan seorang hamba yang merintih menengadah kepada Allah di malam hari, namun ketika siang muncul, dia pun melakukan maksiat.
Bagaimana mungkin do’a seorang gadis ingin mendapatkan seorang laki-laki sholeh terkabulkan, sedang dirinya sendiri belum sholehah.
Bagaimana mungkin do’a seorang hamba yang mendambakan rumah tangga sakinah, sedang dirinya masih diliputi oleh keegoisan sebagai pemimpin rumah tangga..
Bagaimana mungkin seorang ibu mendambakan anak-anak yang sholeh, sementara dirinya disibukkan bekerja di luar rumah sehingga pendidikan anak terabaikan, dan kasih sayang tak dicurahkan.
Bagaimana mungkin keinginan akan bangsa yang bermartabat dapat terwujud, sedangkan diri pribadi belum bisa menjadi contoh teladan
Banyak orang mengaku cinta pada Allah dan Allah hendak menguji cintanya itu. Namun sering orang gagal membuktikan cintanya pada sang Khaliq, karena disebabkan secuil musibah yang ditimpakan padanya. Yakinlah wahai saudaraku kesenangan dan kesusahan adalah bentuk kasih sayang dan cinta Allah kepada hambanya yang beriman…
Dengan kesusahan, Allah hendak memberikan tarbiyah terhadap ruhiyah kita, agar kita sadar bahwa kita sebagai makhluk adalah bersifat lemah, kita tidak bisa berbuat apa-apa kecuali atas izin-Nya. Saat ini tinggal bagi kita membuktikan, dan berjuang keras untuk memperlihatkan cinta kita pada Allah, agar kita terhindar dari cinta palsu.
Dan Allah tidak akan menyia-nyiakan hambanya yang betul-betul berkorban untuk Allah Untuk membuktikan cinta kita pada Allah, ada beberapa hal yang perlu kita persiapkan yaitu: 1) Iman yang kuat, 2) Ikhlas dalam beramal, dan 3) Mempersiapkan kebaikan Internal dan eksternal. kebaikan internal yaitu berupaya keras untuk melaksanakan ibadah wajib dan sunah. Seperti qiyamulail, shaum sunnah, bacaan Al-qur’an dan haus akan ilmu. Sedangkan kebaikan eksternal adalah buah dari ibadah yang kita lakukan pada Allah, dengan keistiqamahan mengaplikasikannya dalam setiap langkah, dan tarikan nafas disepanjang hidup ini. Dengan demikian InsyaAllah kita akan menggapai cinta dan keridhaan-Nya.

Minggu, 06 Januari 2008

Vaksin Penyebab Autis

Dari Seorang Sahabat - Buat para Pasangan MUDA, oom dan tante yg punya keponakan atau bahkan calon ibu, perlu nih dibaca ttg autisme. Bisa di share kepada yang masih punya anak kecil supaya ber-hati2.

Setelah kesibukan yg menyita waktu, baru sekarang saya bisa dapat waktu luang membaca buku "Children with Starving Brains" karangan Jaquelyn McCandless,MD yang diterjemahkan dan diterbitkan oleh Grasindo.Ternyata buku yang saya beli di toko buku Gramedia seharga Rp. 50,000, itu benar2 membuka mata saya, dan sayang sekali baru terbit setelah anak saya Joey (27 bln) didiagnosa mengidap Autisme Spectrum Disorder. Bagian satu, bab 3, dari buku itu benar-benar membuat saya menangis. Selama 6 bulan pertama hidupnya (Agustus 2001 - Februari 2002), Joey memperoleh 3 kali suntikan vaksin Hepatitis B, dan 3 kali suntikan vaksin HiB. Menurut buku tersebut (halaman 54 - 55) ternyata 2 macam vaksin yang diterima anak saya dalam 6 bulan pertama hidupnya itu positif mengandung zat pengawet Thimerosal, yang terdiri dari Etilmerkuri yang menjadi penyebab utama sindrom Autisme Spectrum Disorder yang meledak pada sejak awal tahun 1990 an. Vaksin yang mengandung Thimerosal itu sendiri sudah dilarang di Amerika sejak akhir tahun 2001. Alangkah sedihnya saya, anak yang saya tunggu kehadirannya selama 6 tahun, dilahirkan dan divaksinasi di sebuah rumah sakit besar yang bagus, terkenal, dan mahal di Karawaci Tangerang, dengan harapan memperoleh treatment yang terbaik, ternyata malah "diracuni" oleh Mercuri dengan selubung vaksinasi. Beruntung saya masih bisa memberi ASI sampai sekarang, sehingga Joey tidak menderita Autisme yang parah. Tetapi tetap saja, sampai sekarang dia belum bicara, harus diet pantang gluten dan casein, harus terapi ABA, Okupasi, dan nampaknya harus dibarengi dengan diet supplemen yang keseluruhannya sangat besar biayanya.

Melalui tulisan ini saya hanya ingin menghimbau para dokter anak di Indonesia, para pejabat di Departemen Kesehatan, tolonglah baca buku tersebut diatas itu, dan tolong musnahkan semua vaksin yang masih mengandung Thimerosal. Jangan sampai (dan bukan tidak mungkin sudah terjadi) sisa stok yang tidak habis di Amerika Serikat tersebut diekspor dengan harga murah ke Indonesia dan dikampanyekan sampai ke puskesmas-puskesmas seperti contohnya vaksin Hepatitis B, yang sekarang sedang giat-giatnya dikampanyekan sampai ke pedesaan. Kepada para orang tua dan calon orang tua, marilah kita bersikap proaktif, dan assertif dengan menolak vaksin yang mengandung Thimerosal tersebut, cobalah bernegosiasi dengan dokter anak kita, minta vaksin Hepatitis B dan HiB yang tidak mengandung Thimerosal.

Juga tolong tulisan ini diteruskan kepada mereka yang akan menjadi orang tua, agar tidak mengalami nasib yang sama seperti saya. Sekali lagi, jangan sampai kita kehilangan satu generasi anak-anak penerus bangsa, apalagi jika mereka datang dari keluarga yang berpenghasilan rendah yang untuk makan saja sulit apalagi untuk membiayai biaya terapi supplemen, terapi ABA, Okupasi, dokter ahliAutisme (yang daftar tunggunya sampai berbulan-bulan) , yang besarnya sampai jutaan Rupiah per bulannya.Terakhir, mohon doanya untuk Joey dan ratusan, bahkan ribuan teman-teman senasibnya di Indonesia yang sekarang sedang berjuang membebaskan diri dari belenggu Autisme."

Let's share with others... Show them that WE care.

Khalwat (Pacaran), Adakah Yang Islami ??

Perkawinan kerap diawali dulu dengan proses pacaran. Rasanya, kurang afdhal kalau nikah tanpa pacaran. Terlebih bagi pasangan yang usianya tergolong masih remaja, bercinta adalah rangkaian awal merajut tali perkawinan. Namun, benarkah berpacaran dilarang oleh Islam? Adakah pacaran yang diperbolehkan?

“Yang muda, yang bercinta”. Mungkin itulah deskripsi yang sangat pas untuk memotret dunia remaja masa kini. Pacaran sudah demikian membudaya di setiap sudut kota , bahkan sampai di pelosok desa. Yang agak fenomenal (sekaligus mengejutkan) , budaya pacaran tak hanya monopoli kaum remaja semata, kini, anak-anak kecil yang masih ingusan pun banyak yang sudah kenal pacaran. Kita bisa lihat dengan mata telanjang sejumlah pasangan ABG (Anak Baru Gede) seusia anak SD, SLTP yang terseret jalinan asmara . Nah?

Budaya pacaran demikian tertanam kuat lantaran ‘virus’ yang disebarkan lewat film-film yang ditayangkan tanpa reserve. Kisah-kisah percintaan menyebar luas dalam sejumlah media, televise, buku, novel, dan sejenisnya. Apalagi perkembangan teknologi dunia maya kini memungkinkan penyebaran informasi dan komunikasi yang semakin dahsyat tanpa bisa dikontrol. Semua hamper bisa dinikmati secara bebas oleh siapa pun, tak memandan usia. Ditambah lagi banyaknya tempat-tempat diskotik, bioskop, cafĂ©, fasilitas gaul anak muda, tempat nongkrong atau tempat-tempat sepi yang tersedia buat mereka yang ingin bercinta.

Ya, pacaran. Sebuah kata yang sangatmenarik untuk dibicarakan, sekan tak ada habis-habisnya sepanjang roda zaman ini masih berputar. Pro-kontra mengenainya pun sudah ada sejak pacaran itu sendiri ada. Generasi muda Islam saat ini seringkali menayakan hal pacaran. Kebanyakan yang ditanyakan ‘fikih pacaran’. Kebanyakan mereka bertanya, “Sebenarnya boleh tidak sih pacaran itu?”. Atau,” Ada tidak pacaran yang Islami itu?”. Serta pertanyaan lain yang masih senada.

Khalwat = Pacaran?
Dalam bahasa Arab, pacaran dikenal dengan khalwat . Secara etimologis, khalwat berarti sunyi atau sepi. Dalam terminologi hukum Islam, khalwat didefinisikan dengan “keberadaan seorang pria dan wanita ajnabi (wanita yang tidak ada hubungan kekerabatan dengan laki-laki itu sehingga halal menikahinya) di tempat yang sepi tanpa didampingi oleh mahram dari pihak laki-laki atau perempuan”. Yang dimaksud dengan wanita ajnabi, wanita yang tidak termasuk mahram. Mahram dalam al-Qur’an yaitu ibu yang menyusui, saudara perempuan sepersususan, mertua, dan lain-lain.

Menurut kesepakatan ulama fikih, pacaran dalam arti positif yaitu saling mengasihi dan mencintai antara pria dan wanita yang tidak melanggar ketentuan Islam, diperbolehkan. Alasannya, Nabi memang menganjurkan agar sesame manusia saling mengasihi dan mencintai, termasuk antara pria dan wanita. Rasulullah memerintahkan umatnya agar memuliakan dan mengasihi perempuan, sebagaimana sabdanya: “Tiada yang lebihmulia kecuali laki-laki yang memuliakan/mengasih i perempuan dan tiada yang lebih hina kecuali laki-laki yang menghina perempuan’ (HR. Ibnu Asakir dari Ali bin Abi Thalib).

Meski Islam memandang pacaran dalam pengertian saling mencintai dan mengasihi antara pria dan wanita sebagai sikap terpuji, para fuqaha sepakat mengharamkan kegiatan berdua di tempat-tempat yang sepi yang memungkinkan mereka melakukan maksiat, karena jelas pacaran tidak sama dengan penikahan.

Alasan pengharaman ini antara lain Hadits dari Ibnu Abbas:”Aku pernah mendengar Rasulullah berkhutbah, di dalam khutbahnya beliau berkata: “Tidak boleh berkhalwat seorang laki-laki dan seorang perempuan kecuali didampingi oleh salah seorang mahram. Dan tidak boleh keduanya keduanya berpergian tanpa ada mahram yang menyertai mereka”. Kemudian salah seoran sahabat bertanya kepada beliau: “Ya Rasulullah, istriku hendak berangkat menunaikan ibadah haji, sedang aku sendiri telah bertekad untuk menyertaimu dalam beberapa peperangan”. Rasulullah berkata:”Pergilah! Dampingi istrimu menunaikan haji, tinggalkan peperangan!” (HR. al-Bukhari dan Muslim).

Berdasar pada hadits ini, ulama fikih sepakat mengatakan bahwa khalwat antara seorang pria dan seorang wanita ajnabi tanpa disertai dengan mahram adalah haram, meski keduanya tidak melanggar hal-hal yang melanggar ajaran Islam, karena larangan ditujukan pada perbuatan khalwatnya.

Larangan khalwat antara laki-laki dan teman lawan jenisnya adalah karena ada dugaan keras akan terjadinya kemaksiatan. Sebagaimana disinyalir oleh Nabi dalam sabdanya yang diterima dari Amir bin Rabi’ah:”Tidak boleh seorang laki-laki berkhalwat dengan seorang perempuan, dan hal itu tidak halal baginya karena yang ketiga di antara mereka adalah setan, kecuali ada mahram yang mendampingi mereka”(HR. Ahmad bin Hanbal).

Hadits Nabi tersebuit hendak menyatakan, peluang bagi setan untuk memperday orang yang berpacaran adalah ketika mereka asyik berduaan di tempat-tempat nan sunyi. Namun dengan hadirnya salah seorang mahram dari mereka, peluang setan menjadi tertutup, dan dengan demikian tak perlu dikhawatirkan terjadinya kemaksiatan kecuali mereka bersekongkol.

Uraian di atas sebenarnya memberi pengertian, hakikat khalwat itu danya kemungkinan terjadi perbuatan maksiat antara laki-laki dan perempuan bila saling beduaan, dan tidak hanya tergantung pada kondisi ramai atau sepinya tempat mereka untuk berdua-duaan. Di perlbagai di mana saja yang memungkinkan mereka berbuat maksiat bisa disebut khalwat. Sebab itu, Nabi pun melarang setiap orang memasuki rumah wanita ketika mahramnya tidak ada di dalam rumah tersebut.”…Laki-laki tidak boleh memasuki rumah wanita kecuali ada mahramnya.”(HR. al-Bukhari dan Muslim).

Pacaran via Chatting dan Telepon
Sebagian kalangan berpendapat, tidak tepat jika khalwat hanya dimaknai duduk berduaan secara fisik. Yang lebih tepat dalam pengertian luasnya, menurut kalangan ini, yaitu bersepi-sepi dari kehadiran orang lain. Ketika dua sejoli ngobrol asyik via telepon atau chatting dan hanya mereka saja tanpa kehadiran yang lainnya, maka hakikatnya mereka sedang menyepi dari manusia. Sehingga tindakan itu bisa dikatakan berkhalawat, meski secara fisik mereka tidak berda dalam satu tempat. Khalwat ini disebut ‘khalwat virtual’.

Bagi kalangan yang berpendapat demikian, khalwat (pacaran) virtual dinilai lebih bahaya dampak negatifnya, karena luput dari perhatiaan orang. Contoh perbandingannya, orang yang pacaran berdua duduk di kebun, bisa jadi tertangkap aparat dan diarak keliling kampong, tapi pacaran via chatting, hukum mana yang bisa melarangnya dan petugas mana yang bisa menangkapnya? Sehingga dengan chatting, pasangan itu bisa bebas pacaran bejam-jam.

Mestinya modus khalwat ara baru ini jadi perhatian kaum agamawan. Bukankah sekarang sudah banyak modus pacaran party line via telepon dengan tarif tertentu.

Selama ini kita mengangap bahwa pacaran itu adalah metode untuk melakukan pendekatan untuk mengenal lebih dekat. Namun, kenyataanya tujuan itu malah jarang tercapai.Alih- alih melakukan pendekatan, yang terjadi justru melakukan sekian banyak kemaksiatan.

Banyak juga orang salah kaprah yang menganggap khalwat bersama tunangan tak jadi persoalan secara syara’ dan bahkan menjadi kebiasaan yang seolah tak dicela agama. Sehingga orangtua yang permisif ini membiarkan anaknya pergi berdua dengan sang tunangan tanpa mahram. Padahal, Islam tegas melarang!

Adakah Pacaran Islami?
Bagaimana seorang laki-laki bisa mengenal calon pasangan hidupnya kalau bukan dengan cara pacaran? Islam sesungguhnua membolehkan laki-laki yang meminang memandang dan mengenal lebih dekat perempuan yang dipinang, atau sebaliknya. Islam pun sejak awal sudah memperkenalkan ta’aruf sebagai sarana melakukan pengenalan dan pendekatan. Ta’aruf inilah yang bisa disebut pacaran yang syar’i bisa dilihat dari tujuan dan caranya. Ta’aruf adalah sesuatu syar’i bagi pasangan yang ingin nikah. Tujuan ta’aruf jelas untuk mengetahui kriteria calon pasangan.

Ketika melakukan ta’aruf, seseorang baik pihak laki-laki atau wanita berhak untuk bertanya detail, seperti tentang penyakit, kebiasaan buruk dan baik, sifat dan lainnya. Dalam ta’aruf dengan calon pasangan, pihak laki dan wanita dipersilahkan menanyakan apa saj kira-kira yang terkait dengan kepentingan masing-masing nanti selama mengarungi kehidupan. Tentu sja semua itu harus dilakukan dengan penuh etika Islami. Tidak boleh dilakukan Cuma berdua, Harus ada yang mendampingi dan yang utama adalah wali atau keluarganya. Jadi ta’aruf bukanlah bermesraan berdua, tapi lebih pada pembicaraan yang bersifat realistis untuk mempersiapkan sebuah perjalanan panjang dalam rumah tangga kelak. Di sinilah letak perbedaan antara khalwat dengan ta’aruf.

Amarah vs Amalan

Seorang dermawan selalu memberikan sedekah kepada orang-orang tidak mampu disekitarnya, dan dia selalu menugaskan anaknya untuk mendata siapa-siapa saja yang pantas untuk mendapatkan sedekah. Suatu saat sang ayah marah kepada si fulan, saat sang anak mengetahui hal itu, dia langsung menghapus nama fulan dalam daftar orang tidak mampu yang akan diberi sedekah.

Saat sang ayah memeriksa daftar, terlihat dahinya berkerut, ”Kenapa tidak ada nama si fulan di dalam daftar ini?”
Seketika sang anak menjawab, ”Bukankah ayah marah kepadanya?”
”Anakku... Aku tidak melibatkan amarah dalam melakukan segala amalanku”

Kamis, 03 Januari 2008

Kucing Adalah Kucing Karena Tikus Adalah Tikus

Akmal Sjafri - Manusia memang tak pernah hidup sendiri. Keadaannya dipengaruhi oleh orang-orang di sekitarnya. Bahkan tidak salah kiranya jika kita katakan bahwa jati diri seseorang tergantung pada orang lain. Dalam bahasa yang lebih cantiknya, “saudara kita adalah cermin dari diri kita sendiri.”

Sebagai contoh, tidak layak seorang lelaki menepuk-nepuk dadanya dengan membanggakan diri sebagai kepala rumah tangga yang baik, sementara istri dan anaknya tidak berpendapat demikian. Tidak mungkin ia bisa menjadi juri bagi dirinya sendiri. Jika ingin tahu kualitas seorang kepala rumah tangga, maka referensi terbaik adalah anak dan istrinya.
Dalam Islam, tidak ada yang boleh mengaku (atau merasa) sudah saleh jika masih cuek-bebek dengan keadaan tetangganya. Jangan merasa sudah bertaqwa hanya dengan modal shalat, shaum, zakat, dan naik haji. Kualitas diri seseorang juga sangat tergantung pada ‘sertifikasi’ yang diberikan oleh orang-orang di sekitarnya.

Tidak semua orang bisa jadi pemimpin, apalagi pemimpin yang sukses. Pemimpin hanya bisa sukses jika orang-orang yang dipimpin mengakuinya sebagai pemimpin dan – dengan sendirinya – patuh pada instruksinya. Jika di mata bawahannya ia hanyalah seorang oportunis yang menyebalkan, maka sampai kapan pun ia takkan pernah sukses, karena timnya tidak solid.
Menurut Ibnu Khaldun, sebuah bangsa akan terpuruk jika sudah memenuhi syarat untuk terpuruk. Jika bangsa itu dipandang sebagai bangsa yang mudah untuk dikendalikan, maka bangsa-bangsa lain akan berlomba mencaploknya. Begitulah ironinya. Seringkali seseorang tertindas karena ia sendiri yang menunjukkan ‘bakat’ untuk menjadi yang tertindas.

Beberapa waktu yang lalu, saya menyaksikan sebuah liputan hasil penelitian mutakhir seputar ‘syaraf takut’ pada tikus. Secara alamiah, tikus memang menganggap kucing sebagai makhluk yang berbahaya. Entah bagaimana, tikus-tikus (terutama yang badannya kecil) mewariskan pengetahuan ini dari generasi ke generasi. Akibatnya, reaksi umum seekor tikus ketika bertemu kucing adalah lari ketakutan.

Entah bagaimana, para ahli menemukan suatu cara untuk mengatasi ketakutan tersebut. Beberapa tikus dijadikan bahan eksperimen dengan mematikan syaraf yang membuatnya merasa takut pada kucing. Setelah proses yang njelimet itu, tikus-tikus itu pun berubah menjadi ‘supertikus’: mereka tidak lagi takut kepada kucing. Mereka memperlakukan kucing sebagaimana hal-hal baru lainnya dalam hidup. Mereka mendatanginya, menyodorkan moncong ke arahnya, mencium baunya, mengendus-endus di depan mukanya, bahkan sampai berani mencolek-colek wajah kucing.

Bagaimana nasib si kucing? Di hadapan tikus-tikus ajaib itu, ternyata sang predator malah kebingungan sendiri. Apa yang terjadi? Mengapa tikus-tikus itu menjadi ‘tidak tahu diri’? Mengapa mereka tidak takut lagi dengan saya? Begitulah kira-kira pertanyaan yang berkecamuk dalam benak si kucing.

Kejadian ini sebenarnya tidak seberapa mengherankan. Kita sering melihatnya dalam kehidupan sehari-hari, meski dalam bentuk yang berbeda. Jika ada mobil menyenggol mobil lainnya, misalnya, perdebatan mengenai siapa yang salah biasanya tidak ditentukan oleh polisi, bukti, ataupun saksi, melainkan siapa yang lebih agresif dalam ‘melakukan serangan’. Siapa yang lebih galak biasanya akan menang.

Begitulah dunia intimidasi. Siapa yang lebih nekat biasanya sudah setengah jalan menuju kemenangan. Sebaliknya, mereka yang sebenarnya punya potensi untuk berjaya tapi terlalu takut untuk menghadapi tantangan akan tertinggal di belakang. Mereka yang kalah oleh intimidasi sudah kalah sebelum bertarung.

Menyusul kepergian Syafiq Mughni –seorang petinggi Muhammadiyah dari Jawa Timur– ke markas zionis Israel beberapa waktu yang lalu masih menyisakan sesal bagi banyak pihak. Syafiq Mughni sendiri sempat melayangkan ‘pembelaannya’ mengenai insiden ini. Meski demikian, pertanyaan besarnya tetap belum terjawab: Mengapa Syafiq Mughni bersikap begitu ‘mesra’ dengan kaum Zionis?

Syafiq Mughni tidak pulang tanpa oleh-oleh. Sekembalinya dari markas Zionis, selain menulis artikel pembelaan diri tadi, ia juga menggambarkan hasil pemikirannya selama perjalanan itu dan dimuat di surat kabar Jawa Pos. Salah satu inti dari pemikirannya adalah bahwa Israel terlalu kuat (lihat paragraf ke-13) untuk dihadapi secara militer. Dengan demikian, Syafiq Mughni menyarankan Palestina untuk menggunakan pola perjuangan yang lebih lunak dan kooperatif terhadap kaum penjajahnya. Tidak makan waktu lama, artikel ini langsung disambut dengan artikel sanggahan yang sangat keras karya Khalid Amayreh, seorang jurnalis asli Palestina. Isi artikel tersebut benar-benar menggambarkan pedihnya hati seorang Muslim Palestina menyaksikan ‘cendekiawan Muslim’ dari negeri yang konon memiliki jumlah penduduk Muslim terbanyak di dunia, namun asyik ‘bermesraan’ dengan Shimon Peres.

Barangkali memang beginilah wajah dunia intimidasi itu. Kucing adalah kucing karena tikus adalah tikus. Ketika tikus berubah menjadi ‘supertikus’, barulah kucing mati langkah. Hal ini harus menjadi bahan pemikiran kita bersama. Barangkali kaum Zionis menjadi kuat karena kita terlalu pengecut. Barangkali mereka bebas menjajah saudara-saudara kita karena kita sendiri yang merasa tak mampu melawannya. Jika tikus pun bisa menjadi ‘supertikus’, lantas mengapa masih ada saja ‘cendekiawan Muslim’ yang bermental tikus?

Selasa, 01 Januari 2008

Mencari Rumah Allah

Jika Kabah dan juga kompleks Masjidil Haram di Mekah, benar adalah Rumah Allah (baitullah) lalu apakah Allah bisa dijumpai di sana? Aku menunaikan haji dan bertamu ke rumah Allah, tapi tak kutemukan si Pemilik Rumah itu melainkan lautan manusia yang berputar mengelilingi Kabah.

SEPERTI itulah konon pertanyaan-pertanya an almarhum Haji Abdul Malik Karim Amrullah ketika menunaikan syariat ibadah yang kelima yaitu berhaji untuk kali pertama. Ketika berkesempatan naik haji untuk kali kedua, pertanyaan yang sama masih berkecamuk dalam diri ulama yang dikenal dengan sebutan Hamka itu. Tapi Hamka tetap tak menemukan jawaban. Dia terus mencari jawaban, kendati tak bertanya kepada manusia. Pada ibadah haji yang ketiga, Hamka menemukan jawaban atas semua pertanyaan dirinya. Allah si Pemilik dan Tuan Rumah itu, memang ada. Bukan di dalam Kabah, tak pula di kompleks Masjidil Haram, apalagi di kota Mekah. Hamka menemukan Allah justru di hati. Ketika pulang ke Indonesia, Hamka menuangkan pengalamannya bertemu Allah itu ke dalam buku Tasawuf Modern.Bagi kaum Muslim, Kabah adalah kiblat. Sebuah titik di muka bumi, sebuah arah ke mana kaum Muslim menghadapkan wajah ketika shalat. Di Mekah setiap tahun ratusan ribu bahkan jutaan peziarah dari semua negeri Muslim berkumpul. Mengunjungi Kabah melaksanakan qurban dan memperbarui ketaatan mereka kepada Allah dan berjanji untuk menjalankan suatu kehidupan baru yang pantas bagi seorang Muslim.Dari Kabah, sejarah perjuangan sebagian para orang suci di mulai dan ditegakkan. Nabi Adam bertemu Hawa di tempat Kabah sekarang berdiri. Nabi Ibrahim dibantu Ismail, anaknya, membangun Kabah sehingga berbentuk seperti yang terlihat sekarang. Nabi Muhammad membersihkan Kabah dan semua berhala Arabia dan memberikan cahaya, agama, kegemberiaan, dan kekuatan kepada kaum musyirikan Arab yang bodoh yang dalam waktu singkat menyebarkan cahaya itu ke empat penjuru bumi.Selain di dalam Alquran dan hadits, kisah tentang Kabah juga banyak diceritakan oleh Taurat dan Injil (bahkan ketika dua kitab itu sudah dimanipulasi) . Seorang sophee atau ahli ramal dalam penglihatan ghaib kaum Yahudi menceritakan bagaimana Yerusalem di bumi diangkat dan dipindahkan ke sebuah negeri di selatan. Yerusalem baru itu tak lain adalah Mekah, karena ia berada di negeri sebelah selatan dengan dua bukit Marwa dan Safa yang menyandang nama yang sama dengan Moriah dan Zion. Dua tempat itu memiliki sumber dan siginifikansi yang sama tapi Yerusalem bermula lebih awal. Irushalem atau Urushalem lama menjadi kota Cahaya dan Kedamaian. Cerita itu diungkap oleh David Benyamin Keldani (Abdul Ahad Dawud), seorang bekas pastor Katolik yang mencoba mencari jawaban mengapa Taurat dan Injil tak mau mengakui Muhammad dalam buku Menguak Misteri Muhammad.Tapi benarkah Kabah adalah Rumah Allah, seperti Hamka pernah bertanya? Ketika Nabi Muhammad menghancurkan seluruh patung yang berada di dalam Kabah, yang sebenarnya dimusnahkan adalah kebusukan dan kebodohan manusia. Seluruh berhala yang dihancurkan oleh Nabi Muhammad hanyalah simbol. Karena itu, bukan soal patung (yang dihancurkan) itu benar, pelajaran yang hendak disampaikan oleh Nabi Muhammad kepada manusia. Melainkan belajarlah untuk membersihkan hati sehingga bisa bersikap sebagai manusia yang tidak bodoh. Bait Allah (Kabah) yang sebenarnya, karena itu mestinya juga dipahami tidak hanya secara kasat mata (lahir). Namun yang lebih mendasar dan penting, harus diyakini bahwa Bait Allah adalah juga tak tampak dan bersemayan pada hati (rasa) manusia. Di sanalah, di hati manusia itu sebenarnya seluruh tawaf perenungan selalu berputar, tempat lari-lari kecil dari kehidupan dunia dan melempar jumrah kebusukan.Maka ketika seorang Muslim pergi ke Mekah untuk berhaji dan berharap menjumpai Allah di Kabah dan Masjidil Haram, dia dipastikan akan menelan kekecewaan. Allah dan juga Bait Allah tak seperti dibayangkan, dan bisa dimengerti seperti pemahaman banyak orang tentang Allah dan Bait Allah. Hamka pernah kecewa, karena pemahaman tentang Allah dan Bait Allah seperti diakui sendiri oleh Hamka sebelumnya ternyata memang tidak tepat. Isyarat bahwa Kabah adalah Bait Allah bukan dalam pemahaman bahwa Allah bermukim di sebuah tempat kudus seperti Kabah. Kabah hanyalah pertanda, simbol, dan isyarat bagi sebuah pemahaman yang luas dan tak terbatas tentang Bait Allah yang sebenarnya. Ia (Kabah) bisa dipahami secara harfiah dan secara jasad tapi juga bisa dipahami secara secara lebih esensial hakiki.